JurnalBudaya– Langit Tambun Utara siang itu terasa berbeda. Alunan musik tradisional berpadu dengan riuh tawa warga yang berdatangan dari berbagai penjuru Kabupaten Bekasi. Di Saung Bang Yusuf, warna-warni pakaian adat dan ragam kesenian menyatu dalam satu perayaan yang telah menjadi tradisi tahunan: Lebaran Bekasi.
Festival Multikultural Lebaran Bekasi ke-9 kembali digelar pada Sabtu (4/4/2026), menghadirkan suasana penuh kebersamaan yang mencerminkan wajah Kabupaten Bekasi sebagai daerah yang tumbuh dari keberagaman. Warga dari 23 kecamatan hadir, membawa identitas budaya masing-masing, sekaligus memperkuat tali silaturahmi pasca Idulfitri.
Kemeriahan dimulai sejak penyambutan tamu kehormatan melalui kesenian palang pintu dan pertunjukan pencak silat. Gerak silat yang tegas dan lantang pantun yang dilantunkan menjadi simbol penghormatan sekaligus penegasan bahwa budaya Betawi Bekasi masih hidup dan terjaga di tengah modernisasi.
Tak lama kemudian, parade budaya dari 23 kecamatan mulai bergerak. Setiap rombongan tampil dengan ciri khas masing-masing. Ada yang membawa kesenian tradisional, ada pula yang menampilkan busana adat daerah, mencerminkan keberagaman masyarakat Bekasi yang terdiri dari berbagai latar belakang budaya.
Di sela parade, tradisi “nyorog” menjadi momen yang paling hangat. Warga saling berbagi kudapan, dari makanan tradisional hingga hidangan rumahan. Bukan sekadar berbagi makanan, tradisi ini menjadi simbol kebersamaan dan saling memaafkan, nilai yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Bekasi.
Plt. Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa Lebaran Bekasi bukan sekadar festival budaya, tetapi juga refleksi identitas masyarakat Bekasi yang multikultural dan dinamis.
“Perpaduan antara masyarakat asli dan pendatang dari berbagai daerah telah membentuk karakter budaya Bekasi yang khas. Ini adalah kekuatan yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Menurutnya, di tengah pesatnya pertumbuhan Kabupaten Bekasi sebagai kawasan industri dan ekonomi, budaya tetap menjadi fondasi penting yang menjaga harmoni sosial masyarakat. Lebaran Bekasi pun menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus perekat sosial yang memperkuat nilai gotong royong dan kebersamaan.
Tak hanya budaya, perayaan ini juga menjadi panggung bagi pelaku UMKM lokal. Berbagai produk unggulan mulai dari kuliner tradisional hingga kerajinan tangan dipamerkan. Pengunjung yang datang tak hanya menikmati pertunjukan budaya, tetapi juga mencicipi ragam kuliner khas yang memperkaya suasana festival.
Kehadiran UMKM tersebut menunjukkan bahwa budaya tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang mampu mendorong kesejahteraan masyarakat. Tradisi dan ekonomi berjalan berdampingan, saling menguatkan dalam satu ruang yang sama.
Di tengah riuhnya acara, wajah-wajah warga terlihat penuh kegembiraan. Anak-anak berlarian menikmati pertunjukan, para orang tua bercengkerama, sementara para tokoh budaya berdiskusi tentang pelestarian tradisi. Semua menyatu dalam suasana yang hangat dan akrab.
Lebaran Bekasi ke-9 bukan sekadar perayaan, melainkan ruang bertemunya keberagaman. Di sinilah budaya menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat, mengingatkan bahwa di tengah kemajuan dan perubahan zaman, akar tradisi tetap menjadi jati diri yang tak boleh dilupakan.
Perayaan ini kembali menegaskan bahwa Bekasi bukan hanya kawasan industri yang modern, tetapi juga tanah yang kaya akan tradisi. Dan melalui Lebaran Bekasi, masyarakat diingatkan bahwa kebersamaan, budaya, dan nilai gotong royong adalah warisan yang terus hidup dari generasi ke generasi. ( Pratiwi)








