JurnalBudaya- Di sebuah minimarket di sudut kota, rak makanan instan kini tak lagi hanya berisi mi lokal. Kemasan berhuruf Hangul berjajar rapi, berdampingan dengan camilan khas Korea yang semakin akrab di lidah masyarakat Indonesia. Tak jauh dari sana, kafe bertema Korea dipenuhi anak muda yang menikmati tteokbokki sambil mendengarkan lagu K-Pop. Fenomena ini bukan lagi hal baru.
Budaya Korea Selatan kini terasa begitu dekat, bahkan bagi sebagian orang Indonesia, terasa lebih akrab dibanding budaya daerahnya sendiri.
Temuan ini terungkap dari penelitian kandidat PhD dari Harvard University, Gangsim Eom, yang menyebutkan bahwa 53,5 persen masyarakat Indonesia merasa budaya Korea sudah tidak asing bagi mereka.
Angka tersebut jauh melampaui tingkat pengenalan terhadap budaya daerah lain di Indonesia yang hanya 15,8 persen responden mengaku tidak asing. Bahkan, 27,2 persen responden mengaku cukup asing dengan budaya Indonesia sendiri.
“Ini cukup mengejutkan,” ujar Gangsim Eom dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation .
Fenomena ini terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dari makanan, musik, hingga gaya berpakaian, budaya Korea semakin mudah ditemukan. Gangsim Eom mengaku saat berada di Indonesia, ia justru merasa seperti berada di rumah sendiri karena begitu mudah menemukan berbagai produk budaya Korea, mulai dari mi instan, makanan kaki lima ala Korea, hingga restoran premium dengan konsep serupa.
Gelombang budaya Korea atau Korean Wave memang berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Musik K-Pop menjadi pintu masuk yang paling kuat. Data menunjukkan Indonesia menjadi salah satu basis penggemar terbesar di dunia.
Tercatat sekitar 80,8 ribu penggemar BTS berasal dari Indonesia, atau sekitar 20 persen dari total penggemar global. Bahkan Indonesia menempati posisi pertama dari 100 negara dengan jumlah penggemar terbanyak.
Popularitas ini juga tercermin dalam data Spotify pada akhir 2023, yang menunjukkan empat dari sepuluh kota dengan pendengar terbanyak grup K-Pop Seventeen berasal dari Indonesia. Jakarta berada di posisi teratas dengan sekitar 500 ribu pendengar, disusul Bandung, Surabaya, dan Semarang.
Tak hanya musik, industri hiburan Korea juga semakin mengakar melalui drama, film, hingga fan meeting artis Korea yang rutin digelar di Indonesia. Sejak konser Rain pada 2009 di Jakarta, gelombang artis Korea terus berdatangan. Mulai dari Blackpink, SM Town, hingga TWICE, semuanya mendapat sambutan luar biasa dari penggemar tanah air.
Pengaruh budaya Korea juga merambah dunia ekonomi dan pemasaran. Sejumlah perusahaan Indonesia mulai menggunakan artis Korea sebagai brand ambassador. Aktor Park Seo-jun, penyanyi Baekhyun EXO, hingga girl group TWICE menjadi wajah berbagai produk lokal, mulai dari e-commerce hingga produk kecantikan.
Bahkan dalam ranah politik, fenomena ini juga terasa. Dalam Pemilu Presiden lalu, beberapa kandidat menggunakan konten bertema K-Pop di media sosial untuk menarik perhatian generasi muda, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh budaya Korea di Indonesia.
Namun di balik fenomena tersebut, muncul refleksi penting tentang budaya lokal Indonesia. Deputi Ad Interim Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif, Muhammad Neil El Himam, menilai Indonesia memiliki potensi budaya yang sangat besar untuk dikembangkan.
“Kita punya 200 bahasa lokal dan tradisi budaya bernilai seni yang tidak terhingga. Semua itu aset yang berharga untuk industri ekonomi kreatif,” ujarnya.
Menurut Neil, keberhasilan Korea Selatan dalam mengembangkan budaya populer bisa menjadi inspirasi bagi Indonesia. Dengan dukungan pemerintah, komunitas, media, akademisi, dan pelaku usaha, budaya Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang di tingkat global.
Saat ini, sekitar 25 juta masyarakat Indonesia menggantungkan hidup pada sektor industri kreatif. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dibandingkan satu dekade lalu, menunjukkan potensi besar yang masih bisa terus dikembangkan.
Di tengah derasnya arus budaya global, fenomena ini menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tak kalah besar. Dari Sabang hingga Merauke, ragam tradisi, bahasa, musik, dan kuliner menjadi warisan yang menunggu untuk lebih dikenalkan.
Gelombang Korea mungkin telah menyapu dunia, termasuk Indonesia.
Namun di balik itu, tersimpan peluang besar bagi Indonesia untuk membawa budaya sendiri ke panggung global — menjadikan keberagaman sebagai kekuatan, dan tradisi sebagai identitas yang tetap hidup di tengah arus zaman. ( Pratiwi)






